DISKUSI SENJA
Lalu malam datang, belum sepenuhnya datang. Terlihat Sepasang Insan masih bermain dengan senja. Malam tak tega merenggut bahagia itu. Nyatanya Malam masih punya hati, tak seperti Orang-orang itu, yang sukanya menyakiti. Malam mendengar Percakapan kedua insan itu. Lelaki itu bertanya, kamu lebih suka Senja atau malam? Gadis itu menjawab; Senja. Jawabnya singkat. Kenapa Senja? Tak ada yang lebih baik dari Senja, kamu bisa menikmati jingganya mentari yang hendak pulang ke peraduannya. Senja itu sederhana namun menyejukan, tak ada terik mentari yang membakar raga. Senja adalah waktu untuk mengambil jeda dari pertarungan Hidup yang panjang dari pagi hingga Sore, tibalah senja untuk kamu mengambil jeda sambil menikmati segelas kopi. Ibarat tulisan yang panjang, Senja adalah Koma dari deretan kalimat yang panjang.
Sang pria tampak mengangguk angguk mendengar jawaban sang Gadis. Lalu kamu lebih memilih apa? Timpal sang gadis. Saya tidak memilih, namun saya lebih suka malam. Kenapa malam? Yah, karena senja adalah Perpisahan. Berpisahnya Mentari dari Persada adalah Senja. Senja itu menyakitkan, ia hanya indah sesaat, menawarkan indah jingga mentari, menawarkan santainya suasana, bercanda ria melepas lelah, namun tak lama setelah itu, ia beranjak pamit. Senja hanya pemberi harapan palsu, membuatmu nyaman sebentar lantas pergi tanpa permisi.
Lebih baik Malam. Meski gelap namun tak menakutkan. Waktunya tubuh beristirahat dari jerih payah bertarung dengan kehidupan. Jeda terbaik bukan pada senja tapi pada malam. Kamu bisa merenung dan berdoa mengumpul niat yang baru dalam darasan doa pada sang Khalik dari Elegi pagi dan siang.
Langit Makin Memerah, mungkin itu pertanda Malam Tersipu malu.
Malam Turun Malu-malu, mendayu-dayu penuh syahdu. Kedua insan itu beranjak Pergi. Malam tak lagi gelap, masih ada secercah harap dan doa.
Komentar
Posting Komentar